Gelar diakhir nama itu pasti

Gelar diakhir nama itu pasti

Senin, 02 Maret 2015

GARAM KEHIDUPANKU




 #1
Tinggal dikota memang enak dan sejahtera, namun tinggal didesa jauh lebih nyaman dan damai. Begitulah biasa kami beristilah. Aku terlahir dan dibesarkan di sebuah desa yang jauh dari perkotaan, jauh dari suara bisingnya kenderaan yang simpang siur. Desa ku adalah desa yang masih kekurangan tenaga listrik, desa yang pada malam harinya hanya diterangi mesin genset yang hanya beberapa jam saja. Desa yang ketika musim hujan itu jalanannya becek dimana-dimana. Begitu pelosok  bukan ? belum lagi penduduk yang pemikirannya kolot, yang hanya memikirkan masa sekarang.
Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, keluarga yang keuangannya pas- pas an untuk kebutuhan.  Namun di desa keluargaku termasuk keluarga yang kaya  karena pekerjaan Mama selain sebagai seorang Guru PNS dan menjabat sebagai kepala Sekolah. Dimana di desa itu PNS masih jarang sehingga termasuk  orang kaya. Namun menurutku itu bukanlah apa-apa. Hanya kami yang tahu betapa berbelitnya keuangan keluargaku. Ayah ku hanya seorang penderes yang kerjanya hanya setengah hati. Entah karena dia malas atau mungkin karena sudah lelah dengan pekerjaan itu. Sejak kecil secara tidak langsung Aku diajarkan untuk hidup mandiri sehingga sekarang Aku sangatlah mandiri dibanding dengan teman-temanku. Mama yang selalu ada tugas diluar kota dan Aku terbiasa dititipkan ditetangga sampai berhari-hari. Ketika itu Ayah masih mengalami puber keduanya, sehingga ketika itu entah kemana dia berada. Begitulah Aku dibesarkan bersama dengan kedua abangku. Mungkin itu yang membuatku tangguh dalam mengarungi kehidupan ini.
Saat itu dikelas 4 SD, keluargaku ditimpa musibah. Rumah dan dua rumah tetangga kami habis terbakar. Penyebabnya adalah kompor minyak yang meledak dan  tidak diketahui asalnya dari rumah siapa. Ketika itu, Aku dan kedua abangku sedang belajar disekolah masing- masing, Mama kebetulan sedang kesawah dan Ayah sedang diperantauan. Tiba-tiba bedug dibunyikan pertanda ada kejadian, dan terdengar suara kebakaran kebakaran kebakaran. Aku langsung keluar kelas dan berlari untuk melihat lokasi kebakaran. Dari kejauhan Aku memandangi rumah kami tanpa bisa berkata sepatah katapun, dan airmata langsung membasahi wajahku. Api tidak bisa dipadamkan karena tidak ada pemadam, orang- orang hanya menyiraminya dengan seember dua ember air. Dan  Mama pun dijemput dari sawah dan setelah sampai didepan rumah Mama langsung jatuh pingsan melihat api yang berkobar. Melihat rumah kami tandas dibuat api yang tersisa hanya lantai semen dan bak air serta Wc dikamar mandi yang WC itu juga adalah WC kami sekarang dirumah yang sudah dibangun lagi.  Kami pun mengungsi dirumah saudara, dan pada malam harinya Ayah datang. Kali itu aku belum menyadari betapa jahatnya Ayah sering meninggalkan kami tak bertanggungjawab hingga dia pulang dalam keadaan seperti itu. Besoknya kami pindah kerumah balai desa. Kami memulai hidup baru dirumah yang hanya seukuran 2 x kamar ku sekarang. Aku benar- benar tidak pernah membayangkan ini bisa terjadi. Dari sekian banyak baju ku hanya tinggal dua pasang dan itupun karena kebetulan ada dijemuran. Aku sangat menyayangkan baju- baju ku yang sama dengan Mewah,  (teman sepermainanku) yang Mama nya jualan baju , sering kami punya baju sama. Konyol memang, kala itu masih itu yang Aku sayangkan.
Sanak saudara dan tetangga-tetangga kami berdatangan memberikan bela sungkawa dan  bantuan dalam bentuk baju-baju dan peralatan dapur. Waktu itu kami benar- benar tidak punya apa- apa lagi. Rumah kedai  kami pun ludes bersama lemari, kulkas dan sofa hingga dirumah baru kami sekarang belum bisa menggantinya. Seragam pramuka SD ku juga dibelikan guru agamaku waktu itu. Luar biasanya, mukenah dan Al-qur’an kami bisa diselamatkan (subhanallah). Semenjak itu aku dan teman- temanku sering sholat berjamaah dimesjid dengan mukenah kesayanganku itu.
Hari –hari ku berputar 180 derajat, yang dulunya tidur sendirian dikamar sendiri sekarang harus tidur berserakan didalam satu kamar bersama dengan kedua abang, Mama dan Ayah. Rasanya ingin teriak dan menyalahkan tetapi entah siapa yang harus disalahkan. Kami tidak punya kamar mandi dan WC pun tidak punya, namun bak air dan WC rumah lama kami masih bisa dipakai dan kami menggunakan itu untuk sementara. Peralatan dapur kami bisa dihitung dengan jari, bahkan sendok makan pun kami cuman punya 5 dan itu cukup untuk kami berlima saja. Masa sulit itu tak akan terlupakan dari ingatanku. Masa yang mengajarkan aku untuk selalu  bersyukur apapun itu keadaannya.

Bersambung.....

.