#1
Tinggal dikota memang enak dan sejahtera, namun
tinggal didesa jauh lebih nyaman dan damai. Begitulah biasa kami beristilah.
Aku terlahir dan dibesarkan di sebuah desa yang jauh dari perkotaan, jauh dari
suara bisingnya kenderaan yang simpang siur. Desa ku adalah desa yang masih
kekurangan tenaga listrik, desa yang pada malam harinya hanya diterangi mesin
genset yang hanya beberapa jam saja. Desa yang ketika musim hujan itu
jalanannya becek dimana-dimana. Begitu pelosok
bukan ? belum lagi penduduk yang pemikirannya kolot, yang hanya
memikirkan masa sekarang.
Aku terlahir dari keluarga yang sederhana,
keluarga yang keuangannya pas- pas an untuk kebutuhan. Namun di desa keluargaku termasuk keluarga
yang kaya karena pekerjaan Mama selain
sebagai seorang Guru PNS dan menjabat sebagai kepala Sekolah. Dimana di desa
itu PNS masih jarang sehingga termasuk
orang kaya. Namun menurutku itu bukanlah apa-apa. Hanya kami yang tahu
betapa berbelitnya keuangan keluargaku. Ayah ku hanya seorang penderes yang
kerjanya hanya setengah hati. Entah karena dia malas atau mungkin karena sudah
lelah dengan pekerjaan itu. Sejak kecil secara tidak langsung Aku diajarkan
untuk hidup mandiri sehingga sekarang Aku sangatlah mandiri dibanding dengan
teman-temanku. Mama yang selalu ada tugas diluar kota dan Aku terbiasa
dititipkan ditetangga sampai berhari-hari. Ketika itu Ayah masih mengalami
puber keduanya, sehingga ketika itu entah kemana dia berada. Begitulah Aku
dibesarkan bersama dengan kedua abangku. Mungkin itu yang membuatku tangguh
dalam mengarungi kehidupan ini.
Saat itu dikelas 4 SD, keluargaku ditimpa
musibah. Rumah dan dua rumah tetangga kami habis terbakar. Penyebabnya adalah
kompor minyak yang meledak dan tidak
diketahui asalnya dari rumah siapa. Ketika itu, Aku dan kedua abangku sedang
belajar disekolah masing- masing, Mama kebetulan sedang kesawah dan Ayah sedang
diperantauan. Tiba-tiba bedug dibunyikan pertanda ada kejadian, dan terdengar
suara kebakaran kebakaran kebakaran. Aku langsung keluar kelas dan berlari
untuk melihat lokasi kebakaran. Dari kejauhan Aku memandangi rumah kami tanpa
bisa berkata sepatah katapun, dan airmata langsung membasahi wajahku. Api tidak
bisa dipadamkan karena tidak ada pemadam, orang- orang hanya menyiraminya
dengan seember dua ember air. Dan Mama
pun dijemput dari sawah dan setelah sampai didepan rumah Mama langsung jatuh
pingsan melihat api yang berkobar. Melihat rumah kami tandas dibuat api yang
tersisa hanya lantai semen dan bak air serta Wc dikamar mandi yang WC itu juga
adalah WC kami sekarang dirumah yang sudah dibangun lagi. Kami pun mengungsi dirumah saudara, dan pada
malam harinya Ayah datang. Kali itu aku belum menyadari betapa jahatnya Ayah
sering meninggalkan kami tak bertanggungjawab hingga dia pulang dalam keadaan
seperti itu. Besoknya kami pindah kerumah balai desa. Kami memulai hidup baru
dirumah yang hanya seukuran 2 x kamar ku sekarang. Aku benar- benar tidak
pernah membayangkan ini bisa terjadi. Dari sekian banyak baju ku hanya tinggal
dua pasang dan itupun karena kebetulan ada dijemuran. Aku sangat menyayangkan
baju- baju ku yang sama dengan Mewah, (teman
sepermainanku) yang Mama nya jualan baju , sering kami punya baju sama. Konyol
memang, kala itu masih itu yang Aku sayangkan.
Sanak saudara dan tetangga-tetangga kami
berdatangan memberikan bela sungkawa dan
bantuan dalam bentuk baju-baju dan peralatan dapur. Waktu itu kami
benar- benar tidak punya apa- apa lagi. Rumah kedai kami pun ludes bersama lemari, kulkas dan
sofa hingga dirumah baru kami sekarang belum bisa menggantinya. Seragam pramuka
SD ku juga dibelikan guru agamaku waktu itu. Luar biasanya, mukenah dan
Al-qur’an kami bisa diselamatkan (subhanallah). Semenjak itu aku dan teman-
temanku sering sholat berjamaah dimesjid dengan mukenah kesayanganku itu.
Hari –hari ku berputar 180 derajat, yang
dulunya tidur sendirian dikamar sendiri sekarang harus tidur berserakan didalam
satu kamar bersama dengan kedua abang, Mama dan Ayah. Rasanya ingin teriak dan
menyalahkan tetapi entah siapa yang harus disalahkan. Kami tidak punya kamar
mandi dan WC pun tidak punya, namun bak air dan WC rumah lama kami masih bisa
dipakai dan kami menggunakan itu untuk sementara. Peralatan dapur kami bisa
dihitung dengan jari, bahkan sendok makan pun kami cuman punya 5 dan itu cukup
untuk kami berlima saja. Masa sulit itu tak akan terlupakan dari ingatanku. Masa
yang mengajarkan aku untuk selalu
bersyukur apapun itu keadaannya.
Bersambung.....
.